Dalam perjalanan hidup sang Nabi, banyak kejadian menguji jiwa dan raga beliau ﷺ. Namun, dari sekian banyak cobaan, ada satu peristiwa yang beliau sendiri ungkap sebagai yang paling berat dan mengiris hati, bahkan lebih pedih dari luka fisik dalam perang Uhud: penolakan umatnya di Tha’if dan ajakan yang ditolak di Al-‘Aqabah.
1. Tragedi Perang Uhud: Luka Fisik dan Kehilangan Sahabat
Perang Uhud menjadi salah satu pertempuran paling berat yang dihadapi kaum Muslimin. Di awal, kaum Muslim memenangkan posisi, namun kemudian strategi yang kurang disiplin membuat keadaan berubah drastis. Banyak sahabat gugur dalam pertempuran ini termasuk Hamzah bin Abdul Muthallib, paman tercinta beliau ﷺ yang wafat sebagai syuhada.
Dalam perang itu, Rasulullah ﷺ juga mengalami luka fisik parah: wajahnya terkena lemparan batu, gigi beliau patah, dan tubuhnya terluka di berbagai bagian. Kengerian ini membuat para sahabat terpukul, dan tangisan beliau atas kematian Hamzah menjadi bukti betapa dalamnya rasa duka beliau. Namun meski begitu, cobaan berikutnya ternyata lebih menyayat hati.
2. Penolakan di Al-‘Aqabah: Saat Harapan Ditolak
Suatu ketika, Nabi ﷺ datang kepada pemimpin Quraisy bernama Ibnu Abd Yalail bin Abd Kilal di Al-‘Aqabah dengan harapan mendapatkan dukungan dan bantuan. Namun tawaran itu ditolak tanpa belas kasihan.
Dalam dialog ini, beliau ﷺ merasakan betapa pahitnya ditolak oleh kaumnya sendiri bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka memilih mengabaikan ajakan kebenaran.
Betapa cobaan ini begitu menusuk hati sehingga beliau ﷺ sendiri menyatakannya sebagai pengalaman paling berat yang pernah beliau rasakan dari umatnya.
3. Perjalanan ke Tha’if: Serangan, Larangan, dan Pelemparan Batu
Setelah penolakan itu, Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan ke kota Tha’if untuk berdakwah. Namun sambutan yang beliau dapat jauh dari ramah. Penduduk Tha’if tidak hanya menolak pesan beliau ﷺ, tetapi juga mencaci, melempari batu, dan mengusir beliau serta Zaid bin Haritsah, sahabat yang setia mendampingi beliau sepanjang perjalanan tersebut.
Dalam kejadian ini:
- Mereka dilempari batu sampai berdarah-darah.
- Zaid terluka parah saat melindungi Rasulullah ﷺ.
- Rasulullah ﷺ sendiri mengalami luka akibat lemparan dan hinaan yang tak henti-hentinya.
Di titik inilah, rasa sakitnya bukan lagi semata luka fisik, melainkan perasaan ditolak, tidak dipahami, dan dicaci oleh orang yang beliau kasihi.
4. Respon Rasulullah ﷺ: Cinta dan Harapan untuk Umat
Dalam kondisi penuh kesedihan itu, Allah ﷻ mengutus malaikat penjaga dua gunung di daerah Qarn Al-Manazil untuk memberi kabar bahwa beliau bisa saja menghukum penduduk Tha’if dengan meratakan dua gunung mereka.
Namun Rasulullah ﷺ memilih jalan kasih sayang dan pengharapan. Beliau ﷺ berkata bahwa beliau berharap Allah akan melahirkan dari tulang sulbi mereka generasi yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.
Itulah gambaran jiwa mulia beliau ﷺ bukan balas dendam, bukan kehancuran, tetapi harapan untuk hidayah dan kebajikan umat di masa depan.
Sementara perang Uhud meninggalkan luka fisik yang terlihat jelas, pengalaman penolakan di Tha’if dan kekecewaan di Al-‘Aqabah menorehkan luka batin yang jauh lebih dalam bagi Rasulullah ﷺ. Dan dalam segala cobaan itu, beliau menunjukkan contoh kasih sayang, kesabaran, serta harapan tak tergoyahkan.











